Wednesday, April 11, 2007

KEUNGGULAN IMPERIUM ISLAM

KEUNGGULAN IMPERIUM ISLAM

Dr. Fahmi Amhar
Dosen Pascasarjana Universitas Paramadina

Dalam sejarah dunia yang panjang, tidak banyak negara-negara yang berhasil membentuk diri menjadi negara kuat yang menguasai wilayah yang luas (minimal pada 10 bangsa / etnis yang berbeda), pada masa yang cukup lama (minimal 10 generasi atau sekitar 300 tahun) serta meninggalkan jejak peradaban yang signifikan, yang terasa sampai saat ini.
Hingga abad-15 M, mungkin hanya tiga negara seperti itu, yaitu Imperium Romanum (Romawi) yang berkuasa dari kira-kira Abad ke-7 SM hingga abad 15 M di seluruh Eropa dan Afrika Utara, lalu imperium Persia dari masa Cyrus (abad 10 SM) hingga abad 8 M dan membentang di wilayah Irak sekarang hingga sebagian India dan Asia Tengah, dan Imperium Islam (abad 8 M hingga 17 M) dan membentang dari Maroko di tepi Atlantik hingga Merauke di Nusantara.
Selain mereka ada juga beberapa negara besar, misalnya Mesir dan Cina. Kerajaan Mesir Firaun bertahan hampir 4000 tahun, namun meski meninggalkan jejak peradaban yang luar biasa (piramid dsb), luas kekuasaannya terbentang hanya di sekitar sungai Nil saja. Demikian juga kerajaan Cina yang meski wilayahnya sangat luas namun tidak mencakup variasi etnis yang seheterogen seperti halnya Romawi, Persia dan Islam. Cina juga tercatat berkali-kali dijajah oleh orang-orang Tartar / Mongol. Bangsa Tartar ini juga meski tercatat pernah menguasai hampir separoh dunia (dari Polandia sampai Cina), namun selain tidak meninggalkan jejak peradaban yang berarti, kekuasaanya juga tidak lebih dari tiga generasi.
Sedang setelah abad-15, keseimbangan dunia mulai berubah. Sejak abad-15, muncul berbagai imperium baru. Sejarah mencatat imperium Austria (Habsburg) yang pernah menguasai sebagian besar Eropa melalui politik peperangan maupun pernikahan. Kebesaran imperium Austria terlihat dari aliran seni arsitektur dan musik yang banyak ditemukan di se-antero Eropa. Kemudian imperium Portugis dan Spanyol yang pernah menguasai banyak wilayah di Amerika Latin, Afrika, sebagian India hingga beberapa pulau di Nusantara selama beberapa abad, hingga sekarang ini bahasa Spanyol dan Portugis masih bertahan sebagai bahasa resmi di PBB. Kemudian mereka tergantikan oleh imperium Inggris dan Perancis yang juga memiliki jajahan di seluruh dunia, dan bahasanya juga masih dipakai di mana-mana. Dan setelah perang dunia kedua, posisi mereka tergantikan oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kini setelah perang dingin berakhir, tinggal Amerika yang aktif sebagai imperium tunggal. Wilayah cengkeraman kekuasaanya praktis ada di seluruh dunia, setidaknya secara tidak langsung melalui badan-badan dunia (PBB, WTO, IMF, …). Meski Amerika Serikat baru berusia 230 tahun, tapi jejak peradabannya sudah melebihi imperium Romawi.

Terbentuknya sebuah Imperium
Terbentuknya suatu kekuasaan yang kemudian dicatat sejarah sebagai suatu "imperium" tidaklah terjadi tiba-tiba. Paul Kennedy dalam "The Rise and Fall of Great Powers" berteori bahwa faktor-faktor ekonomilah yang menjadikan sebuah negara semakin penting, sehingga kemudian menjadi lebih kuat dari negara lain. Yang dimaksud faktor ekonomi adalah sinergi antara posisi geopolitis, sumber daya alam, tingkat teknologi penduduknya, kekuatan struktur politiknya dan semua ini akan berperan pada ketahanan militer negara itu.

Fakta, semua negara yang pernah menjadi imperium, memiliki semua yang dibutuhkan itu. Pertanyaannya adalah, mengapa ada masa-masa pasang surut, ketika meski suatu negara masih memiliki semuanya, namun dia tidak lagi menjadi penting di kancah dunia. Sebagai contoh, Russia sebagai penerus Uni Soviet, masih memiliki semua yang dipunyai Uni Soviet. Dia masih memiliki wilayah yang luas, dari batas Skandinavia hingga batas Korea; sumber alamnya masih sama, teknologinya masih teknologi Soviet yang mampu membuat bom atom dan pesawat luar angkasa, struktur politiknya mestinya lebih kuat karena lebih demokratis, dan empat juta tentaranya dengan minimal 10000 kepala nuklir masih merupakan kekuatan yang mampu menghancurkan seluruh dunia. Namun kini Russia bukan lagi imperium. Dia sudah kehilangan hampir semua negara satelitnya. Bahkan politik ekonominya sudah dikendalikan oleh AS lewat WTO.
Jadi apa sesungguhnya yang membentuk imperium?

Alvin Toffler dalam "The Future Shock" menjelaskan bahwa pengaruh dan kepemimpinan, baik dalam skala kecil maupun skala imperium, bisa timbul oleh tiga hal:
1. muscle - pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuatan fisik (militer). Artinya bangsa atau negara yang yang di bawah pengaruhnya, bisa dikuasai karena dipaksa, karena takut, atau karena meminta perlindungan. Inilah pada umumnya imperium Romanum, Persia dan juga negara-negara yang terjajah oleh negara kapitalis di abad pertengahan.
2. money - pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuatan ekonomi, termasuk sumberdaya alam. Artinya bangsa atau negara yang yang di bawah pengaruhnya bisa dikuasai karena mendapat kompensasi ekonomi (hutang, investasi, akses sumber alam, akses produk, akses pasar). Inilah yang terjadi di abad-20 dengan Uni Soviet dan AS. Di masa komunis, negara-negara Eropa Timur merasa perlu bergabung dengan Uni Soviet karena akses kepada minyak dan gas Soviet - yang tidak perlu dibeli dengan $ di pasar bebas, tapi cukup dibarter dengan gula atau buah-buahan.
3. mind - pengaruh yang ditimbulkan oleh kekuatan pemikiran, termasuk gaya hidup dan teknologi. Artinya bangsa atau negara yang di bawah pengaruhnya bisa dikuasai karena pemikiran yang diembannya. Pemikiran yang merasuki itulah yang membuat mereka mau dipimpin oleh sang imperior.

Menurut Toffler, model kepemimpinan yang ketiga inilah yang paling tinggi mutunya. Meski beberapa imperium terbukti saat ini memiliki ketiga-tiganya, Namun dilihat dari sejarahnya, selalu dapat dimengerti bahwa semua bermula dari pemikiran. Setelah ada pemikiran, maka kekuatan ekonomi dapat dibangun dan dipertahankan lebih lama. Dengan kekuatan ekonomi ini maka kekuatan fisik dapat dibiayai lebih lama.
Tanpa kekuatan pemikiran, maka kekuatan ekonomi mudah dibuat loyo, dan tanpa kekuatan ekonomi, kekuatan fisik hanya bisa dipertahankan sebentar.

Kontroversi Khilafah versus Kerajaan

Dalam sejarah dapat dilihat bahwa tidak ada imperium yang dapat bertahan dengan penguasa yang bersikap absolut dan monolitik (diktator). Imperium Romanum pun memiliki senat yang selalu diajaknya berdiskusi dan bahkan diandalkan keputusannya dalam persoalan-persoalan negara yang pelik. Bagaimanapun pemimpin kalau ingin terus didukung, dia tidak bisa begitu saja melupakan para pendukung politiknya. Tentu saja, pada rakyat perseorangan di masa itu tetap akan ada keputusan-keputusan yang akan dinilai oleh kita sekarang sebagai sangat otoriter. Namun secara makro, itu tidak akan terjadi bila tidak didukung (minimal didiamkan) oleh konstruksi sosial politik yang ada.

Jadi, bagaimana keputusan politik diambil, sesungguhnya tidak tergantung pada apakah negara itu berbentuk kerajaan dengan raja yang turun temurun atau oleh presiden yang dipilih setiap lima tahun.

Sistem khilafah per default adalah negara yang tidak otoriter. Dalam berbagai aspek hukum, hukum ditentukan oleh syara', tidak oleh kehendak Khalifah. Sedang dalam persoalan lain, khalifah wajib bermusyawarah dengan ahlu halli wa aqdi (Majlis Ummah).
Kalaupun kemudian terkesan khilafah berasal dari satu dinasti, maka itulah kenyataan praktis yang terjadi. Bagaimanapun, anak-anak seorang khalifah relatif memiliki kesempatan belajar politik lebih baik dari orang-orang lain. Dia akan lebih banyak mengenal para tokoh, lebih sering belajar dari orang-orang yang paling alim, dan mungkin juga lebih luas aksesnya kepada media massa. Walhasil ketika ada pemilihan khalifah baru, dia memiliki posisi start yang jauh lebih baik dari semua kandidat lain.

Dan berbeda dengan kerajaan, dalam sistem khilafah tidak ada putera mahkota yang harus jadi dalam keadaan apapun. Tidak seperti di Cina, yang sejarah mencatat seorang kaisar Pu Yi yang baru berumur 3 tahun, dan akhirnya disetir habis-habisan oleh Perdana Menterinya yang korup.

Transisi peralihan Imperium
Peralihan imperium Romanum dan Persia ke imperium Islam terjadi dalam proses dakwah. Persia jauh lebih cepat tunduk di bawah kekuasaan Islam karena imperium ini dikenal sangat korup dan kejam kepada rakyatnya. Islam diterima rakyat sebagai ajaran yang memerdekakan manusia dari perbudakan sesama ke penghambaan kepada Allah saja. Dan ketika dakwah Islam dihalangi secara fisik, rakyat Persia sendiri yang turut membantu pasukan jihad, sehingga tak sampai seabad setelah Nabi wafat, Persia sudah seutuhnya di bawah naungan Islam.

Adapun transisi Romawi ke dalam Islam memakan proses hampir 800 tahun. Daerah jajahan terdepan Romawi di Syams dapat dibebaskan pada masa Umar bin Khattab. Namun ibu kota Konstantinopel baru bisa dibebaskan oleh Muhammad al-Fatih tahun 1453. Kuncinya memang dakwah dan pemikiran. Pemikiran yang merasuki para mujahidin Islam dan rakyat yang akan dibebaskan.

Transisi imperium Islam ke imperium kafir di abad 17 hingga sekarang, juga berangsur perlahan, dimulai dari masuknya pemikiran asing ke tubuh kaum muslimin dan khilafah. Khilafah baru benar-benar dibubarkan tahun 1924, namun sebelumnya dia sudah seperti digerogoti kanker yang kronis selama lebih dari dua abad.

Karakteristik dan Hasil Karya
Hasil karya imperium Islam sangat berbeda baik dengan sebelumnya (Romawi/Persia) maupun sesudahnya (AS, Inggris, Perancis, dll.).
Imperium Islam tidak pernah merendahkan etnis manusia yang di bawahnya, sehingga tidak pernah menimbulkan kebencian kepada negara yang membawanya, hingga sekarang. Kalaupun di suatu masa pernah ada kebencian Arab atas Turki, maka itu tidak lain adalah hasil provokasi calon penjajah atau imperium baru.
Imperium Islam tidak pernah menjarah sumberdaya alam dari negeri yang dikuasainya (seraya memiskinkannya), justru malah sebaliknya, terkadang mereka mensupply negeri manapun (termasuk yang tidak dikuasainya) yang kekurangan atau mengalami musibah.
Imperium Islam tidak pernah menimbulkan bencana lingkungan atau sosial yang serius. Imperium Amerika sekarang ini menimbulkan situasi lingkungan global yang sangat parah (AS yang paling besar mengkonsumsi BBM dan otomatis memproduksi limbah / polutan justru sampai kini menolak meratifikasi protokol Kyoto yang membatasi gas rumah kaca); serta kesenjangan yang makin meluas antara negara-negara kaya (di "utara") dan negara-negara miskin di "selatan".

Hasil peradaban Islam juga menunjukkan bahwa mereka peduli kepada karya-karya yang tidak sekedar memiliki nilai material, intelektual dan emosional, namun juga memperhatikan nilai spiritual, sehingga manusia dari kalangan apapun merasa lebih dimanusiawikan, karena merasa dekat dengan Sang Penciptanya. Ini yang jarang ditemukan dari karya-karya imperium yang lain.
Wallahu a'lam.

1 comment:

Anonymous said...

Terima kasih sudah me-link ke situs kami; Syariah Publications